DAMPAK FUNGSI KELUARGA DALAM ERA MODERNISASI

 

DAMPAK FUNGSI KELUARGA DALAM ERA MODERNISASI

ARISKA


KATA PENGANTAR

 

Puji syukur senantiasa kita panjatkan kehadirat Allah SWT, karena atas limpahan rahmat serta hidayah-Nyalah sehingga kami dapat menyelesaikan pembuatan Makalah yang berjudul “Dampak Fungsi Keluarga Dalam Era Modernisasi”. Selawat serta salam tak lupa pula kami kirimkan kepada Baginda Rasulullah SAW, sahabat-sahabatnya, serta para pengikutnya.

Penulis menyadari bahwa penyusunan dan pembuatan karya ilmiah remaja ini masih banyak terdapat kekurangan dan kesalahan. Oleh karena itu penulis mengharapkan saran dan kritikan yang sifatnya membangun demi kesempurnaan dalam penyusunan makalah ini.   

Setitik harapan dari penulis, semoga makalah ini dapat bermanfaat serta bisa menjadi wacana yang berguna. Penulis menyadari keterbatasan yang penyusun miliki. Untuk itu, penulis mengharapkan dan menerima segala kritik dan saran yang membangun demi perbaikan dan penyempurnaan makalah ini.

 

 

 

                                                                               Watampone, 28 November 2015

                                                                                                     

                                                                                Penulis

DAFTAR ISI

 

KATA PENGANTAR                                                                                                  

DAFTAR ISI                                                                                                                 

BAB I      PENDAHULUAN                                                                                        

     A.  Latar Belakang                                                                                                           

     B.  Rumusan Masalah                                                                                                      

     C.  Tujuan                                                                                                                        

BABII     PEMBAHASAN                                                                                           

1.      Perubahan-perubahan apa saja dalam fungsi keluarga akibat

modernisasi yang terjadi ?                                                                                                                                       

2.      Bentuk-bentuk modernisasi apa saja yang telah terjadi?                                      

                          

BAB III   PENUTUP                                                                                                     

      A.  Kesimpulan                                                                                                                

      B.  Saran                                                                                                                      

DAFTAR PUSTAKA                                                                                              
BAB I

PENDAHULUAN

 

A.    Latar Belakang

Dalam setiap masyarakat, keluarga merupakan pranata sosial yang sangat penting artinya bagi kehidupan sosial. Seseorang menghabiskan paling banyak waktunya dalam keluarga dibandingkan dengan di tempat bekerja misalnya, dan keluarga adalah wadah di mana sejak dini seseorang dikondisikan dan dipersiapkan untuk kelak dapat melakukan peranan-peranannya dalam dunia orang dewasa. Melalui pelaksanaan peranan-peranan itu pelestarian berbagai lembaga dan nilai-nilai budayapun akan dapat tercapai dalam masyarakat bersangkutan. Keluarga adalah satu-satunya lembaga sosial, di samping agama, yang secara resmi telah berkembang di semua masyarakat. Tugas-tugas kekeluargaan merupakan tanggungjawab langsung setiap pribadi dalam masyarakat, dengan satu dua pengecualian. Hampir setiap orang dilahirkan dalam keluarga dan juga membentuk keluarganya sendiri. Setiap orang merupakan sanak keluarga dari banyak orang. Hampir tidak ada peran tanggungjawab keluarga yang dapat diwakilkan kepada orang lain, seperti halnya tugas khusus dalam pekerjaan dapat diwakilkan kepada orang lain.
            Keikut sertaan dalam aktivitas keluarga meskipun tidak didukung oleh hukuman resmi yang biasanya mendukung banyak kewajiban lainnya, tetapi semua orang tetap mengambil bagian. Umpamanya, kita wajib ikut serta dalam kegiatan yang ekonomis atau produktif, jika tidak ingin menghadapi pilihan kelaparan. Kita harus membayar pajak, menghadap ke pengadilan jika bersalah, atau menghadapi hukuman fisik dan kekuatan. Akan tetapi, tidak ada hukuman serupa itu bagi orang yang menolak untuk kawin, atau tidak mau berbicara dengan saudara atau orangtuanya. Meskipun begitu, tekanan sosial itu demikian memaksa dan terus menerus, dan demikian terbaurnya dengan imbalan baik secara langsung maupun tidak, sehingga hampir semua orang menyesuaikan diri atau mengaku menyesuaikan diri kepada tuntutan-tuntutan keluarga.
            Terjadinya modernisasi yang diawali dengan Revolusi Industri di Inggris pada abad ke-18. Gejala ini kemudian meluas ke seluruh dunia. Mula-mula ke daerah-daerah yang kebudayaannya semacam, yaitu ke Eropa dan Amerika Utara, kemudian ke bagian-bagian dunia yang lain dengan daerah-daerah yang kebudayaannya berbeda sama sekali dengan kebudayaan Eropa, seperti ke Asia, Afrika, dan Amerika Latin. Modernisasi yang terjadi ini juga menyentuh aspek keluarga, sehingga telah terjadi berbagai perubahan fungsi keluarga sebagai akibat proses modernisasi. Fenomena perubahan-perubahan yang terjadi dalam keluarga akibat modernisasi ini merupakan hal yang hendak diangkat dalam tulisan ini.

 

B.     Rumusan masalah
            Untuk mempermudah dan membantu jalannya penulisan, maka tulisan ini berangkat dari beberapa pertanyaan:

C.    Perubahan-perubahan apa saja dalam fungsi keluarga akibat modernisasi yang terjadi?

D.    Bentuk-bentuk modernisasi apa saja yang telah terjadi?

E.     Bagaimana fungsi keluarga secara tradisional dalam masyarakat?


BAB II

PEMBAHASAN

 

1.                  FUNGSI KELUARGA
            Fungsi keluarga adalah untuk menciptakan anggota masyarakat yang baru yang sesuai dengan norma-norma atau ukuran pada masyarakat tersebut. Perubahan yang ada pada masyarakat mempengaruhi suatu keluarga dalam memberikan pengajaran pada anak-anaknya. Secara umum fungsi keluarga adalah untuk sosialisasi, reproduksi, dan legalitas status. Menurut Goode (1983), ada empat fungsi universal keluarga inti, yaitu fungsi seksual, fungsi reproduksi, fungsi ekonomi, dan fungsi pendidikan. Keempat fungsi tersebut bersifat universal dan mendasar bagi kehidupan manusia.
            Bagi hampir semua masyarakat, keluarga adalah pusat yang paling penting dalam kehidupan seorang individu biasa. Dari keluarga, seseorang itu melangkah keluar, dan kepada keluarga juga seseorang itu akan kembali, berada dalam kelompok orang yang paling erat dalam hidup mereka. Keluarga adalah kelompok inti yang paling penting dan dengannya seseorang itu berhubungan. Ia dicirikan dengan adanya kemesraan, hubungan tatapmuka, dan sangat abadi. Hubungan yang mesra dengan kelompok manusia yang terdekat menjadi kebutuhan seluruh manusia, sekurang-kurangnya sejauhmana wujudnya dalam semua masyarakat sebagai petunjuk universalitas.
            Selain sebagai kelompok hidup yang mesra, keluarga juga menjadi sumber penyebaran makanan kepada emua lembaga lain. Di dalamnya, bukan saja desakan berproduksi dilakukan, tetapi dari segi alamiah merupakan satu-satunya kelompok di mana proses pembiakan diatur. Jadi keluarga juga mengambil tahu mengenai desakan berproduksi pembiakan, dan juga ditugaskan menjaga dan mendidik anak-anak pada masa bayinya. Oleh karena keluarga bertanggungjawab atas anak-anak itu pada tingkat awal dalam tahun pembentukan, maka pengaruhnya dalam proses sosialisasi adalah begitu penting.
Dalam banyak masyarakat, keluarga juga berfungsi sebagai unit produksi ekonomi. Usaha-usaha utama mencari biaya hidup dijalankan oleh keluarga sebagai satu unit, biasanya dengan pembagian kerja di kalangan anggota. Ada kalanya fungsi ini diambil alih oleh kelompok yang lebih besar, seperti sekumpulan pemburu atau gabungan beberapa keluarga, tetapi biasanya keluarga itu bertugas sebagai satu unit yang terkoordinasi dalam produksi ekonomi.
Keluarga bertugas sebagai pelindung para anggotanya dari kemungkinan gangguan masyarakat luar atau orang dari suku atau sukubangsa yang lain. Ada kalanya suku yang biasanya memotong melintang garis keturunan keluarga, menjalankan fungsi ini, dan dengan terbentuknya negara, kebanyakan jika tidak semuanya, fungsi ini kemudian dijalankan oleh lembaga yang dibentuk belakangan.
            Keluarga juga berfungsi sebagai dasar untuk menentukan status para anggotanya. Di mana terdapat perbedaan besar dalam status di kalangan suatu masyarakat, keluarga yang darinya seseorang itu dilahirkan biasanya mempunyai hubungan dengan sistem status ini, dan status individu itu diperoleh, sekurang-kurangnya sebagian dari keluarganya. Perubahan status biasanya terjadi melalui perkawinan. Dalam masyarakat yang mempunyai warisan status, keluarga menjadi unit di mana warisan status itu diturunkan. Hak-hak istimewa biasanya diturunkan melalui garis keluarga, seperti hak memperoleh tanda kehormatan dari orang lain dan hak istimewa mendapatkan harta tertentu.
            Fungsi keluarga yang penting lainnya adalah menjaga dan merawat anggota yang sakit, tua, atau tidak bernasib baik. Fungsi ini, seperti fungsi yang lain, berbeda dari satu masyarakat dengan masyarakat lain, tetapi kebanyakan masyarakat menentukan keluarga dengan tanggungjawab khusus kepada para anggotanya apabila ia membutuhkan bantuan keluarga.

 

·         Dampak Modernisasi Terhadap Fungsi Keluarga
           Salah satu akibat dipisahkannya kegiatan-kegiatan ekonomi dari lingkungan komunitas keluarga adalah bahwa suatu keluarga kehilangan beberapa fungsi dan memproleh suatu peranan yang khusus. Oleh karena keluarga tidak lagi merupakan suatu unit produksi, maka satu atau lebih dari anggotanya meninggalkannya untuk mendapatkan pekerjaan dalam pasaran tenaga kerja. Kegiatan-kegiatan keluarga makin lebih terpusat pada kesenangan-kesenangan emosionil dan sosialisasi.
           Implikasi sosial dari perubahan struktur keluarga adalah terjadinya proses individuasi dan isolasi keluarga batih (nuclear family). Bila keluarga harus mondar-mandir dalam pasaran tenaga kerja maka tidaklah mungkin untuk membawa seluruh anggota keluarga, malah tidak mungkin untuk mempertahankan hubungan-hubungan yang erat dan yang bercabang-cabang itu dengan para sepupu. Hubungan dengan anggota-anggota keluarga yang seketurunan mulai pecah; hanya beberapa generasi yang menetap dalam suatu rumahtangga yang sama; keluarga-keluarga yang baru kawin membentuk rumahtangga sendiri dan meninggalkan para orangtua. Satu persoalan yang sosial yang timbul akibat perubahan dalam keluarga ini adalah tempat dari orang-orang yang telah tua sekali. Oleh karena tidak lagi ditampung oleh unit kekerabatan yang melindungi mereka, maka orang-orang yang sangat tua ini jatuh ke dalam pengawasan komunitas atau negara sebagai “titipan” yang jumlahnya semakin besar dari waktu ke waktu. Akibat tersisihnya orang dari masyarakat, maka timbullah lembaga baru seperti pensiun dan jaminan sosial.
           Secara serentak hubungan antara orangtua dan anak-anak juga mengalami perubahan. Sang ayah, yang sekarang harus meninggalkan rumahtangganya untuk bekerja di tempat yang lain, dengan sendirinya kehilangan banyak fungsinya untuk memberi latihan ekonomi yang sebelumnya diberikannya pada anak-anaknya. Berhubung dengan itu sistem-sistem apprentice-ship atau “magang”, di mana sang ayah dan sang anak harus berada bersama-sama di tempat kerja, menghilang dengan bertambahnya spesialisasi produksi di pabrik-pabrik. Sering dikemukakan bahwa menghilangnya kewibawaan ekonomi dari sang ayah menyebabkan menghilangnya kewibawaan umumnya dari para orangtua, sekalipun pernyataan ini sangat sulit dibuktikan secara empiris. Sang ibu yang sering merupakan satu-satunya orang dewasa di antara para anak-anak selama hampir sehari penuh, mengembangkan suatu hubungan emosionil yang lebih intensif dengan mereka. Peranannya dalam sosialisasi menjadi lebih penting, karena ia memiliki hampir semua tanggungjawab untuk membina kehidupan emosional yang pertama dari anak-anak itu.
           Betapapun eratnya hubungan antara sang ibu dan sang anak dalam tahun-tahun pertama itu, masa ini tidaklah lama. Suatu masyarakat kota-industri yang sedang maju memerlukan bermacam-macam teknik yang tidak selamanya dapat disediakan oleh keluarga. Oleh karena itu, keluarga cenderung untuk menyerahkan fungsi pendidikannya pada sistem-sistem pendidikan formal. Pagi-pagi sekali suatu keluarga batih telah menyerahkan kewibawaannya atas anak-anaknya pada Sekolah Dasar (atau taman kanak-kanak, atau bahkan di Play Group); sewaktu remaja anak-anak itu menjalin hubungan-hubungan ke luar tidak saja dengan sekolah, tetapi juga dengan sebagian dari pasaran tenaga kerja. Tambahan lagi, anak-anak itu mungkin telah menikah pada usia yang muda (sebelum atau sesudah dupuluh tahun), membentuk rumahtangga mereka sendiri dan makin kurang bergantung pada orangtua.

            Suatu percabangan dari hubungan orangtua – anak yang berubah-ubah ini adalah “jurang masa remaja”, yaitu ketika para remaja terlepas dari hubungan yang erat dengan orangtua semasa usia muda, tetapi belum mendapat pekerjaan dalam dunia dewasa atau peranan-peranan dalam rumahtangga atau masyarakat. Oleh karena itu, untuk beberapa tahun lamanya si remaja mengalami tidak adanya peranan yang melibatkan dirinya secara mantap.
Suatu percabangan lain dari terjadinya perubahan besar dalam perhubungan-perhubungan keluarga di lingkungan kota industri adalah yang mengenai adalah pembentukan keluarga-keluarga baru. Dalam kebanyakan lingkungan tradisional, suatu perkawinan sangat ketat dikendalikan oleh para orangtua; cita-rasa dan keinginan pasangan-pasangan yang akan dikawinkan itu kurang lebih tidak dianggap penting. Jadi, dasar bagi suatu perkawinan di sini tidak terletak pada cinta, tetapi pada pengaturan-pengaturan yang lebih praktis seperti adanya mas kawin dalam jumlah yang tertentu atau perjanjian pemberian sebidang tanah yang terpilih. Dengan menghilangnya hubungan-hubungan keluarga besar dan pemberian arti baru pada kewibawaan orangtua, maka para remaja dibebaskan untuk memilih pasangan-pasangan mereka sendiri.

 

2.                   Bentuk-bentuk Modernisasi
            Modernisasi bukan merupakan istilah dan proses yang teramat baru. Manifestasi proses modernisasi pertama kali nampak di Inggris pada abad ke-18 yang disebut dengan Revolusi Industri. Untuk negara-negara Asia sekalipun, istilah modernisasi paling tidak sudah dikenal kurang lebih selama satu abad, yaitu sejak terjadinya industrialisasi Jepang, yang lewat pertengahan abad ke-20 itu tergolong yang paling giat mengusahakan modernisasi tersebut. Apakah proses kontemporer ini dilukiskan sebagai “kehancuran tradisi” ataupun sebagai “revolusi dari pengharapan yang meningkat”, yang jelas orang sedang menuntut dan mengalami perubahan-perubahan yang sedemikian pesatnya sehingga tidak ada bandingannya dalam sejarah.
            Modernisasi sesuatu masyarakat ialah suatu proes transformasi, suatu perubahan masyarakat dalam segala aspek-aspeknya. Di bidang ekonomi, modernisasi berarti tumbuhnya kompleks industri yang besar-besar, di mana produksi barang-barang konsumsi dan barang-barang sarana produksi diadakan secara massal. Perkembangan ekonomi tidak dapat dilepaskan dari perkembangan ilmu pengetahuan. Revolusi industri dapat terjadi karena revolusi ilmu pengetahuan dan revolusi teknologi yang berkaitan dengan itu.
            Suatu masyarakat modern dengan spesialisasi fungsi-fungsinya di semua aspek kehidupan, yang biasanya memerlukan pendidikan dan latihan yang lama, tidak mungkin ada tanpa suatu sistem pendidikan yang luas. Biaya pendidikan juga hanya dapat dipikul oleh suatu sistem produksi yang modern.
            Aspek yang paling spektakular dalam modernisasi sesuatu masyarakat ialah pergantian teknik produksi dari cara-cara tradisional ke cara-cara modern, yang tertampung dalam pengertian revolusi industri. Akan tetapi, revolusi industri hanya sebagian atau satu aspek saja dari suatu proses yang jauh lebih luas. Modernisasi suatu masyarakat ialah suatu proses transformasi suatu perubahan masyarakat dalam segala aspek-aspeknya. Beberapa aspek serta hubungannya dengan berbagai macam gejala berikut ini memberikan gambaran dari transformasi besar masyarakat itu.
            Dalam satu negara yang baru timbul, menurut Weiner (1980) muncul perubahan-perubahan sebagai dampak dari modernisasi, yaitu ;

1. Dalam bidang politik, berubahnya sistem-sistem kewibawaan suku dan desa yang sederhana digantikan dengan sistem-sistem pemilihan umum, kepartaian, perwakilan, dan birokrasi pegawai negeri.

2. Dalam bidang pendidikan, sewaktu masyarakat berusaha mengurangi kebutahurufan dan meningkatkan ketrampilan-ketrampilan yang membawa hasil-hasil ekonomi.

3. Dalam bidang religi, sewaktu sistem-sistem kepercayaan sekuler mulai menggantikan agama-agama tradisionalistis.

4. Dalam lingkungan keluarga, ketika unit-unit hubungan kekeluargaan yang meluas menghilang.

5. Dalam lingkungan stratifikasi, ketika mobilitas geografis dan sosial cenderung untuk merenggangkan sistem-sistem hirarki yang sudah pasti dan turun temurun.

3.                   Kerangka Konseptual dan Pendekatan

            Istilah yang sering dijumpai dalam literatur mengenai keluarga adalah mengenai struktur dan fungsi. Istilah-istilah ini muncul dalam hampir semua tulisan yang beredar saat ini, tetapi dalam beberapa pengertian yang bervariasi. Merton (1957), menyatakan bentuk-bentuk penggunaan istilah fungsi membantu untuk membedakan pengertiannya seperti yang digunakan dalam pendekatan struktur fungsional yang digunakan dalam beberapa literatur ilmu sosial.
            Kata fungsi adalah suatu kata yang sering digunakan oleh sosiolog. Sebagai contoh, Ogburn dan Nimkoff, dalam karya mereka tentang perubahan dalam keluarga. Menurut mereka kata fungsi merujuk pada aktivitas. Dalam hal ini kata yang digunakan pada aktivitas yang diberikan terhadap seseorang dari status sosial yang nyata. Walaupun pengertian ini berhimpitan dengan istilah fungsi yang digunakan oleh penulis-penulis yang menggunakan pendekatan struktur fungsional, suatu pengertian yang sangat teliti dihubungkan terlihat untuk menyatakan secara tidak langsung ketika penulis-penulis tertentu mendidkusikan prayarat fungsi dan fungsi keluarga.
            Keluarga mungkin dilihat sebagai satu atau beberapa subsistem dalam masyarakat, dalam hubungan antara keluarga dengan masyarakat dan keluarga dengan subsistem lainnya sebagai fokus penelitian. Individu dalam keluarga inti dapat juga dianalisis sebagai suatu sistem yang benar, suatu batas, mempertahankan sistem yang ada dalam berbagai bentuk internal dan eksternal yang menekankan pada batas disolusi atau pemeliharaan. Analisis bentuk pertama telah mengacu sebagai makrofungsionalis dan belakangan sebagai mikrofungsionalis.
            Dalam pendekatan stuktur-fungsional terhadap studi keluarga, tiga area utama secara nyata yang ditekankan adalah; fungsi keluarga terhadap masyarakat, sistem subsistem dalam keluarga terhadap keluarga, atau terhadap masing-masing lainnya, fungsi keluarga terhadap individu anggota keluarga, mencakup pengembangan perseorangan. Cara lain dari pernyataan tiga area utama ini adalah (1) hubungan antara keluarga dan unit sosial yang lebih luas, (2) hubungan antara keluarga dan subsistem, dan (3) hubungan antara keluarga dan pribadi. Dalam tiap-tiap kasus hubungan dalam salah satu dari dua arah mungkin lebih ditekankan.
            Satu tekanan utama dalam memperhatikan hubungan antara keluarga dan unit sosial yang luas dalam peranan yang dimainkan keluarga dalam bersosialisasi sebagai anggota baru dalam masyarakat. Parsons dan Bales tentunya lebih tertarik hanya pada unit struktur kekerabatan yang kecil, yaitu keluarga, yang dapat membawa keluar tanggung jawab untuk anak-anak yang sangat muda dan oleh karena itu secara umum adalah keluarga inti.
            Fokus utama ketiga studi memperhatikan area umum pada hubungan timbal-balik antara keluarga dan pribadi. Fungsi gangguan emosi pada seorang anak terhadap keluarga dan akibatnya untuk perkembangan kepribadian anak sebagai subjek dari studi alamiah. Contoh lain adalah Strodtbeck (1958) dan Parsons (1955). Spiegel dan Bell (1959) memberikan suatu tinjauan ulang studi dengan menekankan pada perkembangan penyakit (patologi) berdasarkan latar keluarga. Beberapa dari studi ini mempertimbangkan keluarga sebagai suatu sistem, tetapi para pengarang meninjau kembali laporannya yang mana sebagian besar penulis mempertimbangkan hanya hubungan yang sebenarnya dalam keluarga, seperti hubungan ibu-anak dan hubungannya dengan gangguan. Ackerman menilai kebutuhan untuk mempertimbangkan hubungan antara masyarakat yang lebih besar, keluarga dan individu yang layak untuk mengerti perkembangan kepribadian.
            Satu nilai dari pandangan yang dapat ditemukan dalam literatur mengenai keluarga adalah suatu variabel ketergantungan antara keluarga dan institusi lain. Penjelasan terhadap pengamatan struktur dan fungsi keluarga yang diberikan masyarakat adalah yang diasumsikan kemudian untuk kepalsuan di luar keluarga. (Sebagai contoh Winch, 1963). Keluarga dipertimbangkan sebagai variabel yang mandiri hanya ketika pribadi berkembang atau sosialisasi anak sedang dipertimbangkan. Nilai ini dilihat tidak dengan suara bulat , walau bagaimanapun, dan tidak dengan keras konsisten dengan teori struktur fungsional. Untuk beberapa masyarakat yang dilihat sebagai suatu karakter sistem sosial oleh suatu kecenderungan keseimbangan, subsistem yang terdiri dari semua bagian yang saling berhubungan. Beberapa faktor yang mempengaruhi seseorang dalam hal ini akan berimplikasi penting terhadap beberapa bagian yang lain seperti halnya sistem secara keseluruhan. Bell dan Vogel menerangkan dengan contoh kecenderungan untuk mempertimbangkan pertukaran fungsi secara timbal-balik.

BAB III

PENUTUP


            Secara umum, modernisasi cenderung untuk menimbulkan suatu unit keluarga yang dibentuk oleh daya tarik emosional dan yang dibangun atas dasar-dasar seksual-emosional yang terbatas. Keluarga dengan demikian telah tersisihkan dari bidang-bidang sosial lain yang penting, kecuali hubungan-hubungan keluar dari masing-masing anggotanya. Dengan isolasi dan pengkhususan sedemikian rupa itu, maka keluarga kurang mencampuri bidang-bidang sosial lain tersebut. Sikap mengutamakan keluarga sendiri (nepotisme) sebagai suatu dasar untuk memungut tenaga-tenaga bagi tugas-tugas sosial lain cenderung untuk disalah-gunakan atau sekurang-kurangnya dicurigai, sedangkan dalam masyarakat tradisional itu adalah cara yang halal. Akhirnya, dalam lingkungan keluarga, fungsi yang serba beragam dan kompleks dari hubungan-hubungan antara anggota keluarga yang satu dengan anggota yang lainnya cenderung untuk menjadi hubungan-hubungan emosional saja.
            Modernisasi yang terjadi, telah menyebabkan perubahan-perubahan dalam fungsi keluarga. Jika sebelumnya keluarga berfungsi dalam memenuhi hampir semua kebutuhan anggotanya, setelah adanya modernisasi banyak peran-peran keluarga yang kemudian diambil-alih oleh lembaga lain. Beberapa contoh di antaranya adalah, fungsi keluarga sebagai tempat pendidikan telah beralih ke lembaga pendidikan yang banyak terdapat di mana-mana, baik formal maupun nonformal. Contoh lainnya adalah, dalam menyediakan pakaian, saat ini orang tidak perlu lagi harus menenun sendiri dan menjahit sendiri pakaiannya, tetapi bisa membeli bahannya di pasar dan membawanya ke tukang jahit untuk dijahit sesuai dengan keinginan kita, atau bisa juga membeli pakaian jadi. Fungsi keluarga sebagai penyedia makanan bagia anggotanya, saat ini juga sudah mulai bergeser. Banyak orang, terutama yang sama-sama bekerja suami-istri lebih suka membeli masakan jadi daripada harus memasaknya terlebih dahulu.

DAFTAR PUSTAKA

 

1.      Goode, William J. 1983. Sosiologi Keluarga. PT Bina Aksara. Jakarta.

2.      Ihromi, T.O. (ed.). 1999. Bunga Rampai Sosiologi Keluarga. Yayasan Obor Indonesia. Jakarta.

3.      McIntyre, Jennie. “The Structure-Functional Approach to Family Study”. Roucek, Joseph S. & Roland L. Warren. 1984. Pengantar Sosiologi. Bina Aksara. Jakarta.

4.      Sajogyo, Pudjiwati. 1985. Sosiologi Pembangunan. Fakultas Pasca Sarjana IKIP Jakarta.

5.      Schoorl, J.W. 1980. Modernisasi Pengantar Sosiologi Pembangunan Negara-negara Sedang Berkembang. PT Gramedia. Jakarta.

6.      Weiner, Myron. 1980. Modernisasi Dinamika Pertumbuhan. Gadjah Mada University Press, Yogyakarta.

 


KELUARGA TRADISIONAL

Beberapa tipe bentuk-bentuk keluarga tradisional yaitu:

Standard nuclear family :

1.     Suami, istri, dan anak-anaknya tinggal di satu rumah tangga dengan suami pekerja

2.    dan istri sebagai pekerja rumah tangga (household worker).

3.    Dyadic nuclear family
Suami dengan istri tanpa anak tinggal di satu rumah dan salah satu atau keduanya bekerja mencari nafkah.

4.    Dual work family 

5.    Kedua pasangan bekerja sebagai kesepakatan dari perkawinannya.

6.    Single parent family

7.    Salah satu orangtua tinggal serumah, biasanya dengan anak pra sekolah dan usia sekolah sebagai konsekuensi dari perceraian, ditinggal pergi, meninggal tanpa sumbangan finansial dari pihak lain.

8.    Three generation family

9.    Tiga generasi tinggal bersama dalam satu rumah tangga

10. Middle age or eiderly couple

11.  Suami atau istri bekerja dan salah satu tinggal di rumah, sementara anak-anak sibuk menuntut ilmu, mengejar karir atau menikah.

12. Second career family

13. Istri bekerja atau membantu orangtuanya ketika anak sedang di sekolah (bekerja part time).

14. Kin network :

15. Tipenya adalah keluarga inti yang hidup bersama tanpa menikah, mereka saling melayani sesuai kesepakatan tanpa diatur oleh peran-peran tradisional.

16. Remarried family

17. Telah bercerai dalam beberapa waktu dan kembali menikah.

18. sesuai perkembangannya tipe keluarga tradisional menjadi bergeser, Tipe keluarga tradisional yaiitu:

19. The Nuclear family (Keluarga inti) yaitu keluarga yang terdiri dari suami istri dan anak (kandung atau angkat).

20.The dyad family , suatu rumah tangga yang terdiri dari suami istri tanpa anak.

21. Keluarga usila, Keluarga terdiri dari suami dan istri yang sudah usia lanjut, sedangkan anak sudah memisahkan diri.

22.The childless, Keluarga tanpa anak karena telambat menikah, bisa disebabkan karena mengejar karir atau pendidikan.

23.The Extended family , keluarga yang terdiri dari keluarga inti ditambah keluarga lain, seperti paman, bibi, kakek, nenek dan lain-lain.

24.“Single parent” yaitu keluarga yang terdiri dari satu orang tua dengan anak (kandung atau angkat). Kondisi ini dapat disebabkan oleh perceraian atau kematian).

25.Commuter family, kedua orang tua bekerja diluar kota, dan bisa berkumpul pada hari minggu atau libur saja.

26.Multigeneration family, Beberapa generasi atau kelompok umur yang tinggal bersama dalam satu rumah.

27.Kin-network family, beberapa keluarga yang tinggal bersama atau saling berdekatan dan menggunakan barang-barang pelayanan seperti dapur, sumur yang sama.

28..  Blended family, keluarga yang dibentuk dari janda atau duda dan membesarkan anak dari perkawinan sebelumnya.

 

29.“Single adult living alone” yaitu suatu rumah tangga yang terdiri dari satu orang dewasa

            Alasan Terjadinya Pergeseran Nilai Keluarga dalam peradaban umat manusia sejatinya dibangun dari unit lembaga sosial terkecil yang disebut sebagai keluarga. Satuan lembaga sosial tekecil ini terdiri dari bapak, ibu dan anak. Keluarga merupakan sistem sosial yang dinamis, yang memiliki peran khusus di segenap institusi sosial lainnya. Will Durant, sejarawan AS dalam bukunya berjudul The Pleasure of Philosophy, menulis, “Keluarga adalah fundamen paling dasar seluruh peradaban yang pernah diketahui oleh sejarah. Keluarga merupakan unit ekonomi dan produksi masyarakat. Pasalnya, seluruh anggota keluargalah yang telah menanami bumi. Kekuasaan seorang bapak terhadap keluarganya, menjadikannya sebagai pemerintahan kecil yang mendukung pemerintahan besar. Keluarga adalah unit budaya, melalui pendidikan dan pengajaran anak-anaknya, ia wariskan tradisi dan seni para penduhulunya.

Pada jaman kita sekarang, seluruh upaya untuk meraih keberhasilan di bidang ilmu pengetahuan, dan teknologi maju telah berkembang dangan begitu pesatnya, hingga terkadang nilai-nilai kemanusiaan yang paling asasi pun harus terkorbankan. Dalam situasi semacam itu, tiap kali peradaban manusia mengalami kemajuan, institusi keluarga pun semakin terancam, dan mengalami perubahan juga. Sepertinya, langkah yang ditempuh manusia modern saat ini, sejengkal demi sejengkal telah melangkah ke belakang kembali. Munculnya model keluarga singel parents atau orang tua tunggal yang mencakup sepertiga jumlah keluarga sekarang ini,  telah memantik banyak pertanyaan baru bagi para sosiolog dan psikolog. Sejumlah permasalahan pelik, seperti tekanan mental, masalah pendidikan, dan masa depan anak-anak mereka serta krisis psikologis dan fisik yang menyertai keluarga single parent merupakan problema pokok masyarakat saat ini. Kini, model keluarga tradisional yang terdiri dari suami, istri dan anak telah berubah menjadi model yang lain. Kian berkembangnya keluarga tanpa bapak dan ibu, anak-anak tanpa wali, atau anak-anak yang terbiasa hidup dengan kakek dan nenek mereka, ataupun kehidupan bersama tanpa ikatan suami-istri, merupakan model lain keluarga modern yang telah menuai banyak kekhawatiran di tingkat global. Sejumlah sosiolog seperti,

Simon Duncan dan Rosalind Edwards, menilai, sekarang ini tengah terjadi perubahan jangka panjang pada model keluarga dan hubungan antara lelaki dan perempuan. Tekanan ekonomi, tuntutan karier masing-masing pasangan, dan kian bebasnya hubungan di luar nikah merupakan sejumlah faktor penyebab terjadinya perubahan tersebut. Dikeluarkannya sejumlah data mengenai runtuhnya sturuktur keluarga menunjukkan, bahwa intitusi sosial yang satu ini tengah mengalami kerusakan yang parah dan memerlukan perhatian yang lebih serius lagi.


1. Apa definisi dari keluarga?

2. Apa definisi dari modern?

3. Apa definisi dari keluarga modern ?

4. Apa karakteristik keluarga modern di Negara Indonesia?

PENGERTIAN KELUARGA MODERN

1.  Definisi Keluarga

Keluarga adalah komposisi dari ayah, ibu, dan anak-anak yang bertempat tinggal dalam satu atap serta diperkuat oleh sentimen baik secara tradisional maupun emosional yang menimbulkan suatu pengalaman bersama. Rumah adalah suatu tempat utama dan pertama untuk berkumpul dalam melaksanakan tugas sosial dalam bentuk tugas-tugas rumah tangga. Keluarga melaksanakan tugas-tugas sesuai dengan cita-cita masyarakat. Keluarga merupakan kesatuan dari orang-orang yang berinteraksi dan berkomunikasi untuk menciptakan peran-peran sosial bagi suami-istri, ayah-ibu, orangtua-anak, putera-puteri. Peran-peran tersebut dibatasi oleh masyarakat yang sebagian merupakan tradisi dan sebagian lagi merupakan emosi yang menghasilkan ciri keluarga.

2.  Definisi Modern

Istilah atau kata modern berasal dari kata latin yang berarti “sekarang ini ”. Dalam pemakaiannya kata modern mengalami perkembangan, sehingga berubah menjadi sebuah istilah. Kalau sebuah ” kata” hanya mengandung makna yang relatif sempit, sedangkan sebuah ” istilah”  akan mengandung makna yang relatif lebih luas. Modern sebagai sebuah istilah dalam  masyarakat kita sudah mulai familiar, walaupun masih banyak yang verbalisme. Istilah modern ini terutama ditujukan untuk perubahan sistem kehidupan (  dalam kontek lebih luas : peradaban ), yakni dari peradaban yang bersifat telah lama menjadi peradaban yang bersifat baru. Kapan perubahan itu mulai terjadi, agak sulit juga melacaknya. Hanya saja ada orang yang mengira, misalnya ada orang mengatakan pada zaman Renaissance gejala perubahan itu sudah kelihatan. Ada juga yang mengatakan perubahan yang drastis terjadi pada masa revolusi industri, diteruskan dengan revolusi kebudayaan. Pada negara tertentu ditandai oleh terjadinya perubahan politik yang sangat mendasar, misalnya di Uni Soviet (sekarang Rusia) apa yang disebut dengan Peresteroika dan Glasnot. Di dunia Islam, perubahan dan pembaruan terjadi setiap lahirnya seorang Nabi dan Rasul.

 

3.  KARAKTERISTIK KELUARGA MODERN

Secara umum saat ini di era globalisasi dan modernisasi kondisi keluarga atau struktur keluarga yang berhubungan denga peran mulai berubah karena masyarakat saat ini makin kompleks. Hal ini  dipengaruhi oleh beberapa sebab ,antara lain :

  • Pergeseran dari extended family menjadi nuclear family karena anggotanya semakin menurun.
  • Single parent meningkat karena adanya perceraian
  • Orang berumah tangga tanpa menikah meningkat karena kumpul kebo
  • Rumah tangga yang sendiri atau mandiri meningkat.
  • Adanya pekerjaan perempuan di luar keluarga sehingga pembagian kerja dalam rumah tangga berubah
  • Status perceraian relatif biasa 

Kesimpulan

            Makalah yang mengangkat judul tentang Keluarga Modern di Indonesia ini berisi tentang banyak hal yang menjelaskan tentang apa itu definisi keluarga, definisi modern, definisi keluarga modern, karakteristik keluarga modern, serta memberikan studi kasus tentang keluarga modern di Negara Indonesia.

            Berdasarkan hasil diskusi kelompok untuk dapat menjawab 4 rumusan masalah tersebut dapat ditarik kesimpulan sebagai berikut,

Pertama,  Keluarga merupakan kelompok primer yang terpenting dalam masyarakat. Secara historis keluarga terbentuk paling tidak dari satuan yang merupakan organisasi terbatas, dan mempunyai ukuran yang minimum, terutama pihak-pihak yang pada awalnya mengadakan suatu ikatan.

Kedua, tentang istilah atau kata modern berasal dari kata latin yang berarti “sekarang ini ”. Dalam pemakaiannya kata modern mengalami perkembangan, sehingga berubah menjadi sebuah istilah. Kalau sebuah ” kata” hanya mengandung makna yang relatif sempit, sedangkan sebuah ” istilah”  akan mengandung makna yang relatif lebih luas. Modern sebagai sebuah istilah dalam  masyarakat kita sudah mulai familiar, walaupun masih banyak yang verbalisme.

Ketiga, keluarga modern adalah suatu bentuk keluarga yang mengikuti trend (peradaban terbaru) sebagai akibat dari penyesuaian-penyesuaian terhadap gejala-gejala baru yang disebabkan oleh semakin berkembangnya ilmu pengetahuan dan teknologi.

Keempat, karakteristik dari keluarga modern, Pergeseran dari extended family menjadi nuclear family karena anggotanya semakin menurun.Keluarga yang mengedepankan peningkatkan level pendidikan dan mendapatkan pekerjaan yang baik. Mencapai pendidikan yang tinggi dan masuk dalam pasar kerja berarti mengubah siklus hidup dari orientasi yang tradisional ke modern. Adanya pekerjaan perempuan di luar keluarga sehingga pembagian kerja dalam rumah tangga berubah. Diasumsikan keluarga modern itu sama dengan keluarga konjugal, keluarga konjugal itu berdiri sendiri, tempat tinggal juga secara sendiri, tidak bersatu dengan kerabat luas. Seacar psikologis, satuan yang kecil ini menjadi semakin berdikari. Ini berarti juga bahwa hubungan emosional di antara suami istri lebih sentral dalam kehidupan keluarga yang memang menyebabkan hubungan mereka menjadi akarab. Akan tetapi kemungkinan keluarga pecah juga lebih besar karena yang mengikatnya adalah terutama suami istri itu saja.

Komentar

Postingan Populer