Sepuluh Tahun: Bukan Sekadar Waktu, Tapi Jalan Hidup


Di satu titik dalam hidup, seseorang tak memilih organisasi; justru organisasi itulah yang memilih untuk menjadi rumah tumbuh. Bukan perkara kebetulan, tetapi takdir yang disusun oleh serangkaian pertemuan, diskusi kecil, dan suara hati yang pelan-pelan berubah menjadi tekad. Di antara sekian ruang akademik dan jejak langkah kampus, terbuka satu pintu bernama Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah. Di sinilah semuanya bermula—bukan hanya tentang mengisi waktu luang, melainkan menemukan jati diri dalam jalan penuh makna.

Menjadi mahasiswa bukan sekadar menuntut ilmu di ruang kuliah, tetapi juga bertumbuh di ruang-ruang kehidupan yang lebih luas. Di awal perjalanan, ketika masih duduk sebagai mahasiswa di STKIP Muhammadiyah Bone, dunia terasa sempit dan terbatas. Namun saat menyentuh organisasi, terutama IMM, ruang itu tiba-tiba membentang luas. Menjadi ketua di tingkat kelas hanyalah permulaan, sekadar membuka pintu kecil menuju dunia yang lebih dinamis. Di sana, tanggung jawab tak lagi soal mengatur jadwal atau mengurus daftar hadir, melainkan belajar mendengar, memahami, dan memimpin dengan hati.

Tingkat komisariat menjadi ladang awal perjuangan. Menjabat sebagai ketua bidang, kemudian diberi amanah lebih besar sebagai ketua komisariat, bukan sekadar penambahan jabatan, tetapi peralihan orientasi hidup. Di sanalah nilai-nilai ideologis ditanam, watak kepemimpinan diasah, dan tanggung jawab tak hanya berbentuk laporan kegiatan, melainkan menjelma menjadi rasa memiliki terhadap cita-cita gerakan.




Perjalanan tak berhenti di sana. Tangga organisasi menuntun ke jenjang berikutnya, pimpinan cabang. Menjadi Sekretaris dan ketua bidang kader selama dua periode membuka babak baru: bagaimana menghidupkan semangat kaderisasi bukan sebagai rutinitas, melainkan ruh gerakan. Dalam setiap pelatihan dasar, forum perkaderan, hingga diskusi kecil di bawah langit malam, hadir proses dialektika yang menguatkan tekad. Di titik ini, kesadaran mulai tumbuh bahwa menjadi kader bukan hanya tentang menyampaikan materi, tetapi menghadirkan keteladanan.

Naik satu tingkat lagi, amanah datang dari ranah yang lebih luas ke Dewan Pimpinan Daerah IMM Sulawesi Selatan. Di posisi sebagai sekretaris bidang immawati, tanggung jawab tak hanya bersifat administratif, tetapi menyentuh wilayah ideologis dan praksis keperempuanan. Menjadi immawati bukan sekadar identitas jenis kelamin, tetapi panggilan untuk menyuarakan keadilan, mendobrak dominasi, dan membela ruang-ruang partisipasi perempuan dalam ranah publik dan privat.



Di sepanjang perjalanan itu, waktu tak terasa berlalu. Sepuluh tahun bukan sekadar hitungan kalender, tetapi lorong panjang yang penuh liku, kadang terjal, namun tak pernah membuat langkah mundur. Setiap dinamika organisasi mengasah kepribadian: dari canggung menjadi tangguh, dari terbata menjadi tegas, dari pendengar menjadi pemimpin. Semua berlangsung dalam denyut nadi gerakan yang tak henti berdetak.

IMM tidak hanya membentuk kader untuk aktif di internal organisasi. Ia mengajarkan untuk menjadi manusia utuh yang mampu hidup dalam dua dunia: akademik dan sosial. Tak sedikit yang mengatakan terlalu sibuk dalam organisasi akan mengganggu studi. Namun bagi yang memahami, justru organisasi membentuk cara pandang baru dalam menyelami ilmu. Studi tak lagi sebatas tugas dosen dan indeks prestasi, tetapi tentang bagaimana ilmu menjelma menjadi manfaat bagi umat. Maka wajar bila di tengah kesibukan organisatoris, gelar magister pun tetap mampu diraih. Semua karena semangat yang telah dibentuk oleh proses panjang dalam gerakan.

Setelah melewati babak struktural, kehidupan tetap membawa amanah yang tak kalah besar. Tak lagi menjabat secara formal, tetapi peran sebagai narasumber dalam diskusi-diskusi keperempuanan terus mengalir. Forum demi forum menjadi tempat berbagi dan belajar kembali. Di setiap ruang itu, selalu ada cerita yang bermuara pada organisasi yang pernah menjadi rumah: IMM. Sebab dari sanalah semua keberanian lahir, dari sanalah semua prinsip dipupuk, dan dari sanalah semua tekad menemukan jalannya.

IMM tak hanya mengajarkan tentang pentingnya ideologi dan nilai. Ia juga mengajarkan bahwa kesetiaan pada jalan dakwah tak mengenal masa jabatan. Setelah struktur ditinggal, semangat harus tetap menyala. Setelah seragam dilepas, ruh kaderisasi tak boleh padam. Karena menjadi kader bukan soal posisi, tetapi tentang komitmen yang melekat hingga akhir hayat.

Setiap langkah dalam jalan kaderisasi bukan sekadar berpindah dari satu tempat ke tempat lain, melainkan menyusuri lorong-lorong pematangan diri yang tak selalu ringan. Menempuh perkaderan tak hanya menuntut kesiapan waktu dan fisik, tapi juga keberanian untuk bergerak seorang diri—melampaui batas kenyamanan, bahkan batas wilayah.

Perjalanan dimulai dari kota Palopo, mengikuti Darul Arqam Madya. Sebuah kota di utara Sulawesi Selatan yang menawarkan udara sejuk dan dinamika gerakan yang hidup. Di tempat ini, wawasan kebangsaan, keislaman, dan kemuhammadiyahan dibentangkan dalam bingkai diskusi yang menggugah. Dari Palopo, langkah dilanjutkan ke Kabupaten Jeneponto untuk mengikuti Latihan Instruktur Dasar. Kota yang dikenal panas itu menjadi ruang menyelami kembali semangat kaderisasi dari akar. Suasana hangat dan kerasnya medan hanya memperkuat tekad bahwa jalan ini tak boleh berhenti di tengah.

Setelah itu, pendidikan khusus immawati mengantarkan perjalanan ke Bulukumba. Di sana, sebagai perempuan, diperkenalkan kembali pada sejarah peradaban, pada tanggung jawab sosial, pada kekuatan ruh keimmawatuan. Forum ini bukan sekadar tempat belajar teori, tapi ruang membangun kesadaran kolektif tentang pentingnya suara dan peran perempuan dalam gerakan. Semangat itu tak lagi berdiam di ruangan, tetapi menjelma menjadi misi: bahwa setiap langkah ke daerah harus membawa cahaya bagi immawati lainnya.

Tugas-tugas organisasi membawa langkah menembus hampir seluruh kabupaten di Sulawesi Selatan. Dari pegunungan Toraja hingga pesisir Selayar, dari perkampungan di Luwu Timur hingga jalanan ramai di Makassar. Setiap tempat menyimpan cerita, wajah kader yang antusias, tantangan geografis, bahkan kadang keterbatasan akomodasi. Namun semuanya menjadi bagian dari perasaan utuh bernama pengabdian. Bahkan ketika harus berangkat sendiri, membawa ransel dan secarik undangan pelatihan, tak pernah ada rasa takut yang mengalahkan semangat.


Puncaknya, perjalanan panjang itu mengantarkan kaki menginjak tanah Minangkabau, Sumatera Barat. Kota Padang menjadi saksi pelatihan Instruktur Madya. tahapan lanjut bagi mereka yang ingin memperdalam ruh perkaderan. Terbang seorang diri dari Sulawesi Selatan, menyeberang pulau dengan membawa nama IMM, bukan perkara biasa. Di kota itu, hadir kader dari seluruh Indonesia. Beragam logat, cara pandang, dan latar belakang menyatu dalam semangat yang sama: membangun generasi pelanjut.

Perjalanan-perjalanan itu mungkin tak selalu diiringi rombongan besar. Sering kali hanya ditemani doa dan semangat dari rekan-rekan seperjuangan. Namun justru dari sunyi itulah keteguhan diuji, keberanian ditempa. Menjadi immawati bukan tentang berada di belakang, tapi melangkah sejajar, bahkan lebih dahulu untuk menunjukkan jalan.

Dan di setiap jejak, ada satu hal yang selalu menguatkan: IMM bukan hanya tempat belajar, tapi rumah jiwa yang memanggil pulang kapan pun hati mulai goyah.

Dalam sepuluh tahun itu, tercatat ribuan peristiwa yang tak semuanya dapat dilisankan. Ada air mata di balik forum-forum besar, ada tawa renyah di balik malam-malam pengaderan. Ada kecewa karena kebijakan, ada bangga karena prestasi kolektif. Tapi yang paling berharga bukan soal capaian, melainkan perubahan diri yang pelan-pelan terbentuk hingga menjadi manusia dengan pandangan yang lebih matang, hati yang lebih bijak, dan cita-cita yang lebih luas.

Di tengah dunia yang terus berubah, menjadi kader IMM adalah kompas yang mengarahkan langkah agar tetap berada di jalan dakwah intelektual. Ketika banyak yang larut dalam pragmatisme, IMM menjadi benteng yang menjaga idealisme. Ketika banyak yang hanya ingin terkenal, IMM mengajarkan pentingnya menjadi bermanfaat. Ketika banyak yang takut bersuara, IMM membentuk keberanian untuk menyampaikan yang benar, meski tak populer.

Kini, ketika menengok ke belakang, rasa syukur tak terhingga atas setiap proses yang telah dilewati. Setiap panggilan rapat, setiap surat undangan, setiap forum diskusi, hingga setiap waktu yang terkuras untuk mempersiapkan kegiatan—semuanya menjadi bagian dari mozaik hidup yang utuh. Tidak ada yang sia-sia. Semua menjadi bekal. Semua menjadi fondasi.

Dan jika kelak ada yang bertanya, "Apa arti sepuluh tahun menjadi kader?" Jawabannya: bukan tentang jabatan yang pernah dipegang, bukan tentang forum yang pernah dipimpin, bukan tentang sertifikat yang dikumpulkan, melainkan tentang bagaimana organisasi telah mengubah cara berpikir, menguatkan prinsip, membentuk karakter, dan mengantarkan pada jalan hidup yang penuh makna.

Sebab menjadi kader adalah pilihan ideologis, bukan karier sesaat. Ia bukan jalan pintas untuk mendapatkan status, tetapi jalan panjang untuk menempuh kemuliaan. Tak heran jika banyak yang tumbuh menjadi pemimpin karena IMM, tetapi yang lebih penting adalah bagaimana IMM menjadikan seseorang tetap manusiawi, tetap berpihak pada kebenaran, dan tetap setia pada jalan dakwah.

IMM bukan hanya organisasi kemahasiswaan. Ia adalah ruang pertumbuhan jiwa. Ia adalah ladang menanam amal jariyah. Ia adalah pelabuhan yang mendewasakan dalam badai dan mempersiapkan pelaut tangguh untuk dunia yang lebih luas.

Dan pada akhirnya, jalan ini tidak akan pernah benar-benar selesai. Selama masih ada kader baru yang bertanya, masih ada immawati yang belajar bicara, masih ada komisariat yang hidup, maka semangat itu harus tetap dijaga. Sebab warisan terbesar dari seorang kader bukan struktur yang dibentuk, tetapi semangat yang diwariskan.





Komentar

Postingan Populer