DI MULAI SAAT MERAH MAROON MEMANGGIL


DI MULAI SAAT MERAH MAROON MEMANGGIL
#1


Kebersamaan yang sesingkat itu, siapa sangka bisa begitu lama menetap dalam ingatan? Padahal, waktu terus berjalan. Tapi ketika sebuah kenangan sudah mengakar, tak ada satupun detik yang benar-benar lewat begitu saja. Bahkan jika semua sudah selesai, selalu ada yang belum benar-benar berakhir.

Empat tahun lalu, cerita ini dimulai. Ketika warna merah maroon—warna kebanggaan sebuah organisasi perjuangan mahasiswa—memanggil. Bukan sekadar simbol, tapi panggilan batin. Siapa yang memanggil? Tak ada yang bisa menjawab pasti. Bahkan orang yang pertama datang hanya menjawab, "Ada, tapi tidak tahu siapa."

Jawaban itu sederhana, nyaris tak masuk akal. Tapi begitulah ia—orang yang tidak banyak bicara, tidak pula mencari perhatian. Datang dengan kesadaran, diam dalam tindakan, namun menyala dalam kontribusi. Bukan tipikal pemimpin yang berdiri di depan panggung, tapi hadir sebagai energi yang menghidupkan gerakan. Bukan pula seorang introvert sepenuhnya, hanya seseorang yang percaya bahwa diam kadang lebih tajam daripada kata-kata.

Ia hadir di antara lingkaran-lingkaran diskusi, perbincangan di bawah pohon kampus, tawa yang mengalun bersama ice cream yang cepat meleleh karena siang yang terik, atau karena nostalgia yang pelan-pelan menghangatkan hati. Bersamanya, banyak kisah tercipta. Dari canda remeh di ruang sekretariat, hingga percakapan serius tentang masa depan perjuangan.

Ia adalah satu dari sedikit orang yang tidak datang karena diajak, tetapi karena dipanggil oleh hal yang lebih dalam—kesadaran. Pernah terabaikan, tidak diunggulkan, namun ia bertahan. Tanpa keluhan. Tanpa mencari panggung. Ketika banyak orang sibuk memantaskan diri di mata publik, ia sibuk menanam akar. Ia tidak menonjol, tapi selalu dibutuhkan.

Ia tak pernah meminta perhatian, namun kehadirannya selalu terasa. Ketika ada kekosongan, dia datang mengisi. Ketika ada tugas yang harus diselesaikan, ia mengambilnya tanpa menunggu ditunjuk. Ia bukan orang yang mencari sorotan, tapi setiap sorotan seolah-olah mengarah padanya karena ketulusan yang ia bawa.

Ia berani mengambil peran saat yang lain masih ragu. Masuk dalam dinamika Pesta Demokrasi organisasi, membawa cara kerja yang berbeda, tetapi efektif. Tidak banyak bicara, namun tegas dalam bertindak. Tidak suka keramaian, tapi mampu mengelola massa. Tidak tampil di panggung utama, tapi ia tahu bagaimana mendesain strategi di belakang layar. Sebagian mungkin menganggapnya misterius, tapi justru di situlah kekuatannya.

Namun, semua yang datang punya kemungkinan untuk pergi. Dan ia pun pergi.

Tanpa pamit. Tanpa kabar. Tanpa jejak yang bisa diikuti. Seolah menghilang begitu saja dari ruang-ruang yang dulu selalu ia isi. Tidak seperti biasanya. Kepergian yang biasanya hanya sementara, kali ini terasa benar-benar mutlak. Awalnya semua mengira ia akan kembali. Tapi hingga waktu berlalu, ruang itu tetap kosong. Tidak ada lagi yang menggantikan posisinya—karena memang tidak ada yang bisa menggantikan.

Seperti mendaki gunung, perjuangan bersama hampir sampai puncak. Namun tiba-tiba salah satu dari tim memilih berhenti. Bukan karena lelah, bukan karena tidak mampu, tapi karena alasan yang sampai hari ini pun tidak diketahui. Hanya bisa menduga-duga. Hanya bisa menebak-nebak. Tapi tak pernah ada jawaban yang benar-benar memuaskan.

Waktu itu, kami semua bingung. Merasa ada yang hilang, tapi tidak tahu harus mencari ke mana. Merasa ada yang belum selesai, tapi tak tahu bagaimana menyelesaikannya. Bahkan, saat forum-forum resmi menutup masa jabatan, saat periode selesai, dan lembaran baru dibuka, tetap ada rasa yang tertinggal. Rasa bahwa ada satu bagian dari cerita yang tidak tuntas.

Namun hidup mengajarkan bahwa tidak semua hal bisa kita tuntaskan sesuai harapan. Ada bagian-bagian yang memang harus kita ikhlaskan meski tidak tuntas. Kehilangan, seberapapun menyakitkan, adalah bagian dari kehidupan. Dan terkadang, dari kehilangan itulah kita belajar tentang makna syukur yang sesungguhnya.

Karena yang hilang bukan berarti tidak pernah ada. Yang pergi tanpa pamit bukan berarti menghapus jejak. Ia telah hadir. Menjadi bagian dari sejarah. Menjadi saksi perjalanan. Dan itu cukup untuk dikenang.

Tidak semua orang punya keberuntungan bisa mengenal orang seperti dia. Sosok yang diam-diam kuat. Yang hadir tanpa mengganggu, tapi membekas di ingatan semua orang. Yang kontribusinya seringkali tidak tercatat, tapi terasa dampaknya. Yang tidak pernah mengklaim dirinya penting, tapi menjadi alasan kenapa semuanya bisa berjalan.

Terimakasih atas keberanianmu untuk hadir. Atas keteguhanmu untuk bertahan. Atas kesediaanmu untuk memberi, tanpa menuntut kembali. Atas kepergianmu yang mengajarkan kami bahwa tidak semua hal harus dijelaskan agar bisa dimengerti. Karena kadang, yang paling dalam adalah yang tak terucap.

Kami akan selalu mengingatmu sebagai bagian dari kisah. Kisah tentang perjuangan, tentang persahabatan, dan tentang kehilangan. Tidak perlu kembali, karena kamu tidak pernah benar-benar pergi. Kamu hidup dalam ingatan kami. Dalam cerita-cerita yang kami ulang di setiap pertemuan. Dalam tawa yang tak pernah benar-benar lepas dari kenangan.

Sekali lagi, terima kasih karena sudah hadir.

Dan terima kasih... karena sudah meninggalkan kisah yang tak akan pernah benar-benar selesai.


Komentar

Postingan Populer