Jangan remehkan perjuangan

Tidak ada perjuangan maka tidak akan ada kemajuan.
Saat kondisi tidak sesuai dengan yang kita inginkan,
maka yang diperlukan adalah berjuang untuk memperbaikinya.
Dan, bersabar dalam perjuangan itu.
Orang yang tidak memahami makna kebisuan adalah...
orang yang tidak akan pernah paham makna keadaan.

Di antara bendera merah perjuangan dan langit yang mendung-mendung teduh. Dalam potret itu ada senyum yang sederhana, tetapi penuh makna. Kami menyebutnya: potret perlawanan yang diam. Potret dari masa ketika idealisme belum lelah, dan keyakinan belum patah.

Tahun 2015 menjadi awal kisah yang tidak pernah kami sangka akan menjadi seistimewa ini. Sebuah panggilan jiwa menyatukan kami dalam satu ruang gerakan bernama Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah. Kami berlima tidak datang sebagai siapa-siapa, tidak datang untuk menjadi apa-apa, kami hanya ingin belajar. Belajar mencintai, belajar berjalan bersama dalam garis perjuangan.

Tak ada yang istimewa dari awal kami. Tidak ada sorotan. Tidak ada sambutan yang hangat. Bahkan, tak banyak yang mengenal kami pada mulanya. Tapi mungkin di situlah kekuatan kami terbangun—dalam diam, dalam ketekunan, dalam kebersamaan yang tumbuh pelan-pelan. Tidak diciptakan, tapi ditemukan.

Di mata orang lain, kami mungkin terlalu kalem untuk disebut pasukan perjuangan. Tapi bagi kami, diam bukan berarti tak bersuara. Kami hanya percaya bahwa ketulusan tak perlu ditunjukkan dengan keras. Ia cukup hadir dalam konsistensi, dalam kesungguhan menyelesaikan tanggung jawab, dan dalam keberanian untuk terus bertahan, meski lelah sering kali datang tanpa permisi.

Dalam banyak kesempatan, kami duduk bersebelahan tanpa banyak bicara. Tapi ketika satu berbicara, yang lain mendengarkan. Ketika satu bergerak, yang lain ikut bergerak. Ada kesepahaman yang tak tertulis, ada perasaan saling menjaga tanpa harus diucapkan. Itulah yang membuat kami bertahan. Bukan karena tidak pernah berselisih, tapi karena selalu memilih untuk tidak berjarak.

Kami menyebut itu "kebersamaan dalam senyap". Tidak penuh sorotan. Tidak selalu berada di depan. Tapi tetap hadir dalam setiap ruang. Jika ada kegiatan, kami hadir. Jika ada diskusi, kami mendengar. Jika ada yang perlu dikerjakan, kami saling menatap dan langsung paham siapa yang akan ambil peran.

Salah satu dari kami bahkan seringkali datang lalu menghilang. Tidak pernah memberi kabar. Tidak pamit. Tapi entah kenapa, tak ada yang benar-benar mempermasalahkan itu. Karena ketika hadir, ia selalu tulus. Ia datang tidak untuk dilihat, tapi untuk bekerja. Ia tak banyak bicara, namun pikirannya dalam. Ia bukan orator, tapi hatinya jernih. Mungkin karena itulah ia menjadi bagian dari kisah yang paling sulit kami lupakan.

Hari demi hari berlalu. Agenda demi agenda dijalani. Dari LID sampai diskusi informal yang berjam-jam di sekretariat, dari menyusun LPJ sampai bergadang menyiapkan kegiatan—semua kami jalani bukan hanya karena kewajiban, tapi karena kami percaya, perjuangan ini milik bersama.

Namun, waktu seperti biasa, selalu punya caranya sendiri untuk menguji kebersamaan.

Ada yang mulai sibuk dengan urusan pribadinya. Ada yang harus berpindah kota. Ada juga yang pergi... tanpa pamit. Yang biasanya hanya hilang sementara, kali ini betul-betul lenyap dari radar. Tak ada pesan. Tak ada kabar. Kami saling bertanya, tapi tak satu pun punya jawaban. Seperti angin yang menghilang dari jendela yang biasanya terbuka.

Kami sempat marah, sempat kecewa. Tapi akhirnya, kami belajar menerima. Karena perjuangan, sebagaimana hidup, tak selalu harus berjalan bersama-sama hingga akhir. Kadang ada yang perlu mengambil jalan lain lebih dulu. Bukan karena menyerah, tapi karena sudah cukup dengan peran yang ia ambil.

Potret kami berlima masih sering kami lihat. Kadang tanpa sengaja. Kadang sengaja dicari saat rindu mulai mengetuk. Di sana ada tawa yang tidak dibuat-buat. Ada semangat yang tidak bisa dipalsukan. Ada janji yang tidak pernah benar-benar diucapkan, tapi tetap dipegang: untuk menjadi orang-orang baik, meski nanti tidak lagi berjalan di barisan yang sama.

Kami memang tidak sempurna. Tidak pula luar biasa. Tapi kisah ini... telah membentuk siapa kami hari ini. Tentang arti hadir dan saling melengkapi. Tentang pentingnya memulai tanpa harus tahu bagaimana akhirnya. Dan tentang menerima bahwa yang pergi bukan berarti lupa, hanya sedang berjarak dalam waktu dan arah.

Kini, kami tidak lagi berlima dalam satu ruang. Tapi setiap kali menyebut perjuangan, nama-nama itu kembali hadir. Setiap kali merah maroon dikibarkan, bayangan itu muncul. Setiap kali kami saling menyapa dalam doa, kami tahu: ikatan itu belum benar-benar putus.

Karena perjuangan tak diukur dari seberapa lama kita bersama, tapi dari seberapa tulus kita pernah saling menggenggam.

Terima kasih untuk semua yang pernah hadir dalam kebersamaan ini. Untuk diam-diam yang saling menjaga. Untuk tawa-tawa yang membungkus lelah. Untuk semangat yang meski kini berjarak, tetap saling menguatkan. Terima kasih untuk pergi tanpa pamit, karena itu mengajarkan kami untuk lebih menghargai waktu ketika kita masih saling ada.

Kami, pernah ada. Pernah berjalan sejajar. Dan meski kini jejaknya tak lagi sama arah, cerita ini tidak akan pernah padam!!!

Komentar

Postingan Populer